Dirgahayu, Lelaki Desemberku

Athifa Rahma

Sudah genap 30 di bilangan usia. Kau. Tetap sama. Selalu menjadi penggenggam hatiku. Kata orang, ulang tahun tak perlu dirayakan. Tapi bagiku ini memang momen spesial. Tak bisa dipungkiri bahwa tanggal ini benar-benar spesial sebab tiga puluh tahun yang lalu seorang wanita yang kau panggil ibu menderita sakit karena cinta ; mengerang merapali nama Tuhan demi menanti seorang bayi yang lahir yang kelak menjadi lelaki hebat pendampingku.

Dulu kau pernah mengatakan padaku, “Aku tidak dilahirkan di tanggal-tanggalbersejarah bukan berarti aku tidak akan menjadi apa-apa. Justru aku harus menjadi pemegang sejarah.”
Dan, ya. Di saat itu aku hanya berpikir, “Oh aku menikah dengan orang yang cukup ‘gila’. Atau, memang aku sama ‘gila’-nya?”

1643 hari telah lewat membersamai hari-hari kita. Cintamu masih bara. Gelora derunya di gelumbang dada. Sejak penantian buah hati yang kedua alasan-alasanmu kuartikan cinta. Larangan-laranganmu kuartikan cemburu. Bahwa kenyataannya akan hadir seorang lagi yang akan menguras cintaku.

“Anak kita biar jadi presiden.” Ujarmu dengan suara membulat harapan.

Dan aku kelak adalah ibu dari seorang presiden?

“Ya. Maka aku memilihmu.” Katamu lagi.

Ah, rayuanmu selalu romantis bersirat. Memupuk misi. Menggenggam kepercayaan harapan, kata yang kita rapal ketika ijab memulai semuanya.

Dan 30 tahun usiamu hendak menjadi apa tahun depan atau beberapa tahun di depan aku hanya memastikan bahwa cahaya yang dipantik untuk gelora baramu adalah keimanan.

Dengan cinta, selalu.
02122015

**Sebenernya ayah gak suka dibilang udah 30 tahun. Yaudah lah ya 29 tahun lebih 12 bulan

(Posted on Fb, 2nd Dec ’15)

Janji Menggeraham ; Palestina

Gemuruh menggulung hujan debu yang beku
Suara peluru-peluru mendesis
; berbisik merapal nama calon si syahid
Dentum rudal berulang-ulang gelegar
Disulut
Tanpa habis
Kesetanan
Sekumpulan penjajah nyeringai iblis

Ibu-ibu tergopoh menjerit
Meneriaki satu-satunya nama diingatan :
Allah! Allah! Allah!
Bayi dan anak-anak -belum lagi ranum usianya- menukar tangis dengan gelimang darah
Para lelaki tegap membopong sepotong tubuh banjir anyir merah nyala yang erat ia terbata,
“Bersabarlah, anakku. Bersabarlah.”

Ambulan seliwer memburu nafas satu-satu
Membayang kejaran Izrail dan wangian misk darah yang mengalir diantaranya

Allah…
Allah…
Allah…
Allahu Akbar… Walillahil hamd…

Bukan. Bukan.
Bukan hendak kami pergi
Sebab hati dan kaki kami akan terus menggenggami tanah ini

Biar banjir airmata
Biar banjir darah
Biar banjir peluru
Biar banjir lapar
Biar banjir gulita
Biar banjir luka memupuk derita

Janji Allah terlihat dengan jelas
Di kepalan batu yang dilontarkan
Seruan yang menggelumbang dada ; Laa haula wa laa quwwata illa billah

Janji-Nya menjelma
Di sudut bibir
Terbit sesabit senyuman

Asyahadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah

 

24112015

****

Setelah sekian lama gak post -bukan berarti gak nulis puisi ya-. Ternyata jadi seorang ibu gak mudah. Gak semudah itu. 24 jam dalam sehari sedang yang kita cari dan kejar adalah ridho-Nya. Cuma ridho-Nya. Kadang hopeless. Bisa kah saya? Benarkah saya bisa? Pertanyaan seperti itu terulang. Lagi. Lagi. Tapi peluk dan mata-mata kedua tercintaku ini selalu menyala harapan.

Ya. Mari genggami jemari kita dan bersama menggamit firdaus-Nya.

Dan puisi ini tiba-tiba nyeruak di pekan ke-19 dede ganin di kandungan Bunda. Semua isinya gemetar ditulis berulang di robekan kertas.

 

Kata Ayah, kelak biar dede ganin ketika besar nanti jadi presiden. Bunda tertawa. Tentu saja. Tapi siapa yang tahu soal malaikat-malaikat dan makhluk yang mengamini?

 

–nah kan jadi curcol si bunda mah

149 Milyar Detik

149 milyar detik

Kalau dikatakan usia pernikahan tiga tahun ke atas sudah tidak ada lagi romantisme mesra. Duhai, salah besar. Justru di tahun-tahun ini dan ke depan setelah kita membuka jubah sesama pasangan kita. Menerawang segala belukar pikirnya. Kita telah sama-sama paling jujur untuk pertama kalinya.

Rindu datang di setiap lipatan detik. Rindu memetik dawai di hela nafas. Bahkan rindu nyeruak bersamaan dengan adanya kau bersama.

Apalagi yang hendak kita deskripsi dari kata cinta? Tak ada. Selamanya tak ada ejaan di deru kata-kata cinta. Biar habis tinta dan mengulang lembarannya, tetap saja cinta tak usai mendikte gelumbangnya.

Perasaan kita tidak lagi sama di sebulan pertama pernikahan yang gugup bahagia cemas dipenuhi kejutan.

Hari-hari yang kita lalui saat ini dipenuhi mimpi-mimpi yang tak usai. Bagian yang mungkin paling pahit dan paling manis sebab proses menimang mimpi kita masih panjang dan terjal. Ragu. Putus asa. Dan tak berhenti. Begitulah kita sekarang.

Maka tentang hari ini aku tuliskan.

Biar kita tak lupa mengapa mungkin sepuluh atau dua puluh tahun nanti hidup hanya semanis gula-gula.

Sebab ada hari ini.

Ya. Sebab ada hari ini yang jemarimu menggenggami aku berkepanjangan.
Pada masa kita memiliki mimpi paling panjang tanpa jeda ruang waktu.
Pada masa kita meratapi dunia yang terkadang keterlaluan membiarkan kita hidup di atasanya.
Pada masa kita berharap atas rapal doa yang selalu kita langitkan di segala waktunya.
Pada masa siang yang mendapati anak kita kegirangan dengan tawa dan malam yang penuh damai menyelimuti mimpinya.
Pada masa kita kesepian sebab hanya kita saja sendiri yang melakukan mimpi kita.
Pada saat kita bahagia sebab menyadari bahwa membahagiakan kerabat dan teman adalah bagian dari kebahagiaan kita.
Pada saat kita akhirnya tahu bahwa semua yang kita jalani tanpa akhir.

Tanpa batas.

Sebab mimpi kita tak pernah sederhana. Bukan. Bukan.

Karena firdaus-Nya bukan milik pemimpi sederhana. Ya.

Dearest your wife 🙂

View on Path

23 September 2014

Tepat 22 tahun usia ini. Ya, sudah menjadi arti apa aku untukmu?

Tahun ke-22 yang dianugerahi kedua orang tua yang sangat teramat ideal dalam dakwah dan duniawi. Ummi dan Abi

Tahun ke-22 memiliki kakak dan tahun ke-20 memiliki adik-adik yang terkadang manis, lugu, menyebalkan, dan penuh cinta. Mas Farhan, Hilya, Hafidz, Amal.

Tahun ke-17 memiliki teman yang kabarnya hanya lewat desau wangi angin riuh gelumbang dada. Aein.

Menuju tahun ke-4 membersamai lelaki yang kutaruh semua cinta dan taat dalam segala suka duka lelah susahnya. Mas Rois.

Dan dua tahun anugerah terhebat dari Tuhan. Nayra Adeliya. Segala yang ada padanya adalah curahan cinta, rahmat kasih sayang-Nya.

Dan teman-teman atas persahabatan, tawa canda, keringat semua.

Terima kasih untuk semua cinta, perhatian, maaf, pengertian, dan segalanya.
Maaf untuk kekurangan kelapaan diri ini.

Aku mencintai Ummi, Abi, Mas, Adik, Suamiku, Nayra dan semua karena Allah. Mari genggami tangan ini hingga firdaus menjadi taman kita kelak bersama.

View on Path

Nayra usia 13-24 bulan ♥♥

View on Path

Nayra usia 0-12 bulan ♥♥♥

View on Path

Tepat dua tahun lalu setelah penantian yang begitu panjang, lalu rasa sakit yang aku tak kuasa menahan. Tuhan menghadiahi kami si mungil yang wajahnya membias wangi cinta memenuhi rumah.

Nayra Adeliya, nama yang kami rindukan.

Sehari dua hari sebulan dua bulan tiga bulan enam bulan setahun dua tahun dan detik-detik berlalu tergesa-gesa, Nay.

Tertawa, menangis, menggenggami, merangkak, duduk, berdiri, berlari, berlari, kemudian suatu ketika kami mendengar suara surga dari bibir mungilnya, “Ayah… Bunda…”

Jika cukup satu kata saja untuk menjelaskan gemuruh hati ini maka kata itu adalah “Keajaiban”

Tawa. Tangis. Canda. Peluk mesra. Kecup sayang. Segala tingkah lugu. Cuma membuatku melangit syukur berulang, “Sungguh Tuhan sangat menyanyangi kami dengan hadirnya kau sebagai anugerah terindah”

Nay, Nayra.

Cepatlah besar, matariku.
Dan dimanapun kapanpun siapapun kau kelak aku selalu ada menggenggami jemari si kecilku.

With love,
Bunda dan Ayah1.
(14/9/2012 – 14/9/2014)

View on Path

Sementara

Sementara kita saling berbisik
untuk kiamat akhlak yang merobek-robek wajah negeri
; menyalahi
sumpah serapah
adu-domba

Sementara kita saling berbisik,
di luar orang-orang membangun mimpi
mengabdi pada negeri
memadam luka menyekap jejak jarak ideologi
sebelum senja memburu. sementara kita HANYA saling berbisik

Menggapai Rindu Menggapai Muhammad

rindu menjelma hujan
setelah begitu lama aku kemarau

ah, setiap kutatap purnama
entah seperti kulihat
purna senyummu
menimang kenangan
dan aku menjadi-jadi
gerimis sepanjang malam

anggap sepersekon waktu
yang mengkhianati kita
adalah jarak cinta yang kutanam
sedalam itu rindu
lentak membentang
kuat mengakar

sengaja tak kulacur rindu lewat kata
sebab diksi
tak sebanding
memikul rinduku
sedang diri
sebegini geletar menyebuti namamu
merapal kemuliaanmu

Muhammad
Muhammad
shalawat atasmu
shalawat atas muliamu
shalawat atas segalamu

dzikir shalawat
gagal memberangus gerimis
adakah kau imani riak hatiku
menggelumbang
hanya mengeja namamu
meminta
memuja
memuji
untuk takdir temu
pada kekasihMu
-yang telah lama menjelma kekasihku jua-

Muhammad
Muhammad Habibillah
Muhammad Nabiyyullah
Muhammad Rosulillah
aku ingin kau!
aku ingin kau!
aku ingin mengecupi bayangmu
aku ingin menyelami kedua bening matamu
aku ingin..
kau menyaksi imanku
membai’at syahadatku
pada altar Tuhanmu, Tuhanku

16.14
12 Feb 2012
di usia ganinku tepat ke 2 berbilang bulan

Mengeja Cinta

Ini tulisan 27 Desember 2009, inget banget ini cerpen karena kebanyakan baca Orhan Pamuk.

Mari disimak 🙂

Mengeja Cinta

Jika kau adalah dirimu…
maka marjan dan yakut adalah matamu
dalam beningnya kurasakan kesetiaanmu
dan dalam senyumanmu kau suguhkan
madu dalam cawan susu

Aku masih tak mengerti dengan sikapnya yang abai. Padahal dari tatapan matanya, aku tahu jika ia memendam perasaan yang sama seperti Shirin kepada Hüsrev ketika elok matanya menatap lukisan Hüsrev. Pada karya pelukis orang-orang Frank yang dianggap kafir itu.

Baca lebih lanjut