Soe, bagimu ini tentu masalah yang remeh temeh. Sebab uang hanyalah kertas yang berarti sampah. Begitu, Soe? Tapi tidak bagiku. Bagi anak zamanku. Ini juga soal rumah tangga yang harus tegak diberdirikan, yang bagimu suka-suka baju boleh ditukar. Tapi tidak bagiku. Bagi anak zamanku. Benar begitu, Soe?

Katamu satu pagi di atas dipan bambu berkereot kepunyaan Haji Abdul: “hidup itu hanya perlu qonaah,” kau menyeruput kopi lalu menghisap kretek dalam-dalam. Atau, “Menikahlah sebab engkau akan dikayakan,” kau mengutip Kalam Ilahi. Ah, Soe, kata-katamu itu nyaris benar terdengar namun nyatanya kau mendepak pantatku dan terjerembab aku dalam lumpur hidup.

Yang pertama, Soe: qonaah. Nrimo. Jangan kau matikan pikiran anak-anak zamanku dengan kalimat sapujagad ini. Nrimo bukan berarti pasrah meski secuil nasi yang masuk lubang perut kita. Qonaah dianjurkan agama untuk membatasi sifat rakus manusia, juga agar tidak mengintip-ngintip harta tetangga yang menjurus pada memfitnah, ngrasani. Maka jangan kau artikan qonaah untuk menghentikan kreatifitas.

Yang Kedua, Soe: ah, jangan lagi kau potong-potong ayat jadi begini. Kalau kalimatnya kau cukil maka berbondong-bondong manusia akan mendatangi pasangannya dan gagah berkata: “ayo menikah, bagaimanapun cara ayo menikah sebab kita pasti kaya bagaimanapun caranya.” Ah, Soe, kau lihat berapa banyak orang bertawakal secara konyol?

Semestinya kau panjangkan surat An-Nur ayat 32 secara penuh. Yang maknanya Al-Qur’an tengah berbicara kepada calon mertua jika kedatangan calon menantu, maka yang paling pertama dilihat adalah keshalihannya. Adapun kekayaan adalah parameter nomor dua.

Sebab itu ayat setelahnya -dan ini menjadi prinsip awal dalam pernikahan: “Dan orang-orang yang belum menikah, maka hendaklah menjaga kesucian dirinya sampai Allah mengayakan mereka dengan karuniaNya.” Jadi, Soe, menikah itu perlu kematangan ekonomi. Karenanya Rasul yang membawa kabar langit bersabda: ‘Wahai para pemuda, jika kamu telah sanggup untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu akan menjaga kehormatanmu. Kalau belum mampu, maka tundukkanlah pandanganmu dan berpuasalah. Karena itu adalah benteng bagi kamu.’ Nah, kan, Soe, kemampuan ekonom jugai menjadi syarat.

Sekali lagi, Soe. Jangan ajari anak-anak zamanku bertawakal konyol!

#refleksi membaca ‘Problematika Kemiskinan dan Bagaimana Islam Mengobatinya?’ karya: Yusuf Qardhawi.

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s