jam tugu di stasiun zagazig itulah yang membuat saya tahu bahwa malam ini pukul sebelas. sunyi. untuk sampai ke rumah, saya mesti menyambung dengan satu angkutan lagi. tapi sudah tak ada mobil yang ramai beroperasi. jalanan lengang dipenuhi pendaran lampu-lampu. di seberang jalan, kios telepon dengan speaker besar memutar kaset ceramah pentingnya jenggot. sedang di tahrir demonstran baku hantam dengan pihak keamanan.

satu angkot merangkak datang. kursi yang ada untuk 12 orang dibagi 3 shaf, bangku depan untuk sopir dan dua penumpang. saya turut merangsek bersama orang-orang lelah memeras tenaganya seharian.

saya meyakini bahwa hidup -seperti halnya politik- selalu menyimpan kejutan. itu sebabnya mengapa banyak orang mati dalam sekelebat jantungnya disambar kaget. jadi apa surprise malam ini? bukan apa-apa, cuma seorang kernet yang mengumpulkan ongkos enam pond sebagai upah perjalanan dua belas orang. sedang dua penumpang di bangku depan menyerahkan ongkos kepada orang di dedaknya; sopir. uang sebesar itu di zaman jempalitan begini cukup untuk beras sekilo dan 3 telur.

ah, edan!

enam pond!

dua belas penumpang!

sekilo beras!

tiga butir telur!

dan setengah jam perjalanan!

sepanjang perjalanan, saya perhatikan kernet angkut ini membuang mukanya ke luar jendela. menikmati pohon-pohon berlarian beriringan. menerawang. saya perhatikan lebih seksama lagi. saya justru ingin menggali apa yang sedang berkecamuk di alam pikirannya? adakah kabar koran pagi tentang israel yang menimpakan Gaza dengan mesiu dan merenggut nyawa dua wanita salah seorangnya adalah ibunya? atau pesawat tempur NATO yang menghujani langit libya dengan rudal dan memotong-motong tubuh pemuda itu saudaranya?

seorang penumpang memberi aba-aba turun di depan masjid mabarrah.

kernet itu terbangun dari lamunannya, merapatkan jaket.

saya menghela nafas panjang.

mobil kembali merangkak. kali ini saya duduk berhadapa-hadapan dengan kernet ini. tak ada bangku khusus kernet. dia hanya menyelipkan badannya di sembarang ruang yang mungkin. matanya kedap-kedip disapu angin. lelah gambar paling jelas di wajahnya.

di depan universitas zagazig, saya tanyakan umurnya.

setengah bingung, ia tidak langsung menjawab, memandangku cukup serius. lalu katanya pelan: “talath thasyir. .”

saya rasakan langit di atas kepala bertambah pekat. untuk apa ia kais-kais uang enam pond di malam yang sebegini tenggelam; uang enam pond yang akan ia bagi dengan si sopir?

di pojokan tempat menyelipkan badannya itu ia menguap, lebar. agaknya untuk menutup mulutnya dengan tangan saja sudah tak mampu. letih dan kantuk menyergap.

sekali lagi dia menguap.

ah, bocah tiga belas tahun! pulang dan tidurlah ke rumah!

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s