“Sebenarnya apa yang hendak kau cari, Nay?” Mata suamiku mengerling padaku.
Aku diam. Memikir-mikir jawaban yang tepat. Yang cermat. Cerdas.
“Mudah! Mudah sekali menghadapi dunia ini, Nay.” Tiba-tiba ia menyerobot belukarku. Hilang semua kata-kata. “Dunia ini sudah turut digenggaman kita. Kau mau seenaknya pulang ke negerimu yang jauh di sana? Bisa!”
“Tapi, apa yang sebenarnya hendak kau cari? Apa yang sejujurnya hendak kau capai, Nay?”
Aku mengangguk. Mencoba tak menjawab. Lelaki semestaku itu tersenyum memeluki aku dari samping. “Seperti aku. Aku mau membahagiakanmu, lalu lazuardi-lazuardi kita. Menegakkan amanah-amanah dengan hati yang lapang.” Sekarang kepalanya menyandari bahuku, manja.
Suaranya penuh-penuh ingin menyampaikan padaku kebesaran cintanya. Ketulusan hatinya.
“Nay, kau kah itu yang bersiap menggenggamiku dalam badainya hidup? Melingkariku dengan rindunya kasih? Ya, mesti kau. Cuma kau.”

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s