akhirnya aku merindukanmu. perempuanku satu-satunya. adikku. yang mungkin manis dan aku tak pernah menyadarinya. wajahnya terbingkai begitu saja diingatanku. lugu. namun setiap kali mengingatinya aku menderai air mata. lerai satu-satu. terjerembab kelabu.

terkadang aku yang lupa bersyukur memilikimu. tapi menjauh darimu sebab keadaan adalah membuatku begitu mengerti. kau ada. kau selalu ada. kata-kata rindumu. candu juga buatku.

berapa kali sehari kita mencandai hari-hari kita?

kemarin, ketika pulang aku lihat rindu yang membeliak matamu.

mata yang kesepian.

adikku.

ah, kapan aku memanggilmu sebegini mesra?

malu aku. malu aku dengan segala ketabahanmu yang diam-diam aku selami sebagai ajaran.

*sebelum saya pulang kamu harus kurus 🙂

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s