Dunia semakin menggejolak. Mesir gelisah tertatih-tatih menuju peradaban barunya. Berulangkali terjadi demo. Berulangkali tumpah konspirasi tak suka dengan keparlemenan yang dipimpin oleh musuh bebuyutan pemerintahan : Ikhwanul Muslimin, yang katanya gerakan ini bisa menghancurkan linier utama hubungan antara dunia arab dengan barat.
Husni Mubarak telah begitu lama ambruk. Tapi hal itu tidak diinginkan oleh ‘kroco-kroco’ sekutunya, orang-orangnya. Bagaimana pun mereka harus tetap memegang kuasa atas negeri kinanah yang sedang risau ini. Beberapa kali tersandung oleh statment yang mereka buat sendiri dimulai dari pengunduran pemilu sampai pembubaran militer. Saya ulang sekali lagi, “Pembubaran Militer.” Sungguh kebijakan yang lucu.
Segala yang terjadi pada atmosfer sosial masyarakat tentu saja akibat ulah dari kejahilan pemerintah. Parlemen sebegitu berusaha kuat memecah masalah yang terjadi diantaranya. Dan baru-baru ini, hampir semua warga kehabisan gas. Gas yang awal keberadaan saya di negeri ini hanya Le 10, sekarang melangit hingga Le 40! Gila! Sedang bahan bakar minyak tersendat-sendat disuplai sehingga jalanan setiap hari macet sepanjang kota didesaki mobil yang mogok antri.
Melihat Mesir yang sebegini rapuh, saya selalunya teringat negeri hijau itu, Indonesia. Kasihan. Setiap senti yang saya lihat hanya kepahitan, kenestapaan, ketiadaan. Berulangkali melempar harap kepada pemerintah, tapi Tuhan mungkin sudah muak kepada kami dengan mengirim pemimpin negara yang goblok. Tak terhitung banyak kasus korupsi. ‘hatta’ yang ada di hadapan saya sendiri adalah bagian darinya. Mencari kesucian diantara kotoran hampir tidak mungkin rasanya. Hal seperti ini membuat orang-orang menjadi melankolis. Terbuai dengan diri sendiri. Alpa kecendrungan untuk peduli.
Sama, masyarakat Mesir pun toh seolah tidak terganggu dengan berbagai kejadian yang menimpa negeri mereka. Pasar tetap ramai. Stasiun tetap berjalan. Mobil-mobil angkutan umum tetap berdesakan penumpang. Toko-toko ramai pengunjung. Sekolah tetap tenang memberi ajaran. Kuliah-kuliah masih penuh wajah-wajah orang punya harapan. Tapi, mungkinkah ini bagian dari ketersengajaan pemerintah? Yang dengan gampang membuat masyarakat tetap teratur pada jalannya dengan aturan-aturan tak masuk akal yang mereka buat. Dibodohi dengan cara kasar tapi masayarakat tetap tak mau ambil pusing, “yang pentinga saya hidup bebas dan bisa bertahan.”

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s