Menuju kota kekasihku : Pekalongan  adalah perjalanan panjang. Menyimpan kisah yang tak bisa terlepas dari sejarahnya.

Untuk kali ini biarkan aku ingin mencerita tentang sebuah perjalanan dua puluh jam waktu yang terlumat sebab menisbikan rindu untuk sebuah temu.

Tentu saja perjalanan menuju Pekalongan adalah seuatu kelelahan. Harus duduk di dalam bis selama 10 jam dengan dua kali pengistirahatan. Tapi bukan itu. Sepanjang jalannya hanya aspal yang menggerayang terlindas bis dengan muatan lebih dari 40 orang.

Berjam-jam setelah puas atas kebosanan di dalam bis, akhirnya aku hampir memasuki awal  kota Pekalongan. Di antara jalanannya ada sungai lebar yang membelah di bawah atap jalanan. Dengan sendirinya aku merinding teringat kejahatan genosida atas kerjapaksa untuk Jalan Raya Pos yang diperintah Deandels seabad lebih lalu. Bagaimana medan Pekalongan yang rawa pesisir pantai ini menyebabkan ribuan orang bergelimpangan. Nyawa begitu murahnya ketika itu. Tapi, mungkin sekarang orang-orang sudah lupa. Atau bahkan mungkin mereka sendiri tidak ada yang tahu sejarah berdirinya Jalan Raya pos yang sebegini megah dan lebar yang dibayar dengan ribuan nyawa.

Kemudian aku lewati Jalan Jendral Sudirman di Pekalongan yang riuh debu-debu hitam sebagai akhir perjalanan. Semula tanyaku, bagaimana jalan ini bisa dinamai Jendral Sudirman padahal pahlawan itu jauh dari jamahannya? Tapi akhirnya di margin pusat kota kutemui monumen yang pertama kali kutanyai kepada lelakiku dia hanya menggeleng malu. Aku maklumi. Lamanya ia menetap di kotanya hanya barang dua belas sampai lima belas tahun. Dan tahun-tahun pentingnya ia lunasi di perantauan, Kuningan kemudian Mesir. Setiap kulewati monumen luas yang menyilang diantara jalanan kota itu aku menyimpan tanya sendiri. Sehingga pada akhirnya kutemui jawaban bahwa itu adalah monumen 3 Oktober 1945. Dan selanjutnya pertanyaanku atas nama jendral Sudirman yang disemat pada jalan gagah itu adalah sebab bantuan Jendral itulah pemuda-pemuda Pekalongan menang atas perlawanannya terhadap Jepang. Bagiku, Pekalongan hanya kota kecil yang sunyi diantara riuh ribuan truk-truk trailer besar yang setiap hari tak lelah-lelahnya melewati jalanannya, dengan masyarakat yang dominan masih ‘njawani’.

Lelakiku menghenti bis dan kami turun tepat di depan rumah kontrakan tua bercat merah muda. Aku tak lagi kaget dengan keadaan Pekalongan yang sebegini jauh dari penggambaranku. Kumuh sebab debu yang tiada habisnya mengudara. Dan mulai terbiasa dengan kebisingan.

Ah, Pekalongan. Kota yang aku sendiri tak bisa melupakan setiap senti jalanannya yang lalu lalang. Yang mulanya ‘aneh’ dengan hegemoni masyarakat jawa dan adat-adat ke-NU-an  yang melestarinya.

Panas. Tapi justru debu-debu hitam ini yang membuat rindu. Menggulung-gulung kenangan yang diterbangkan awan.

Setiap kali kuingati kota kekasihku itu, setiap kali pula aku rindu mata ibu. Teduh. Dan segala ceritanya dan diamnya. Begitu pun bapak yang jarang bicara tapi menyimpan wibawa.

Pulangkah aku kembali pada pelangi ibu?

Doakan. Allahumma yusahhil.

 

11 Feb 2012

18.41

malam di sini pekat. tapi lebih pekat restumu.

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s