Mesir yang dingin serta merta membawakanku serumpun rindu panasnya kotamu. Sekali-kali pernah aku mengeluhi panasnya. Debunya yang hitam. Pernapasan yang menjadi kurang bagus dan kesan yang biasa saja.

Tapi semua cerita yang dilatarinya membuatku benar-benar rindu. Keramaian yang tak pernah kutemui di kotaku yang kecil yang sepi. Terutama ibu. Wanitamu yang  penuh-penuh aku tahu ia menyimpan ribuan cinta buatmu. Kalimatnya terkadang sepi sendiri. Sebagai kekasih anaknya aku harus tetap mendengar. Tapi itulah yang aku rindu. Sering aku mendua dengannya. Duduk bersebelahan. Memasak di dapur. Berbelanja ke pasar. Atau menemaninya ke warung. Sekarang aku menyesal mengapa dulu kami hanya jumpalitan diam. Sekarang aku baru tahu bahwa aku telah merindu ceritanya. Tanyanya yang lugu. Atau sekedar tatapan sesaat yang terkadang terlihat masygul.

Entah kesyukuran apa yang membendung hatiku. Memiliki ibu yang ibumu. Entah, jika orang lain mungkin aku tak bisa sedekat ini. Padahal yang pertama kali aku ragukan untuk memutuskan tinggal di kotamu adalah wanitamu itu. Dan akhirnya aku salah. Benar-benar salah. Mendapati wanitamu yang lembut hatinya. Segala bayang tentangnya yang lalu hamburlah entah diluruh malu. Lalu diam-diam segalanya aku belajar darinya.

Kotamu. Kota pesisir. Selepas begitu lelah mengayuh sepeda hampir satu jam perjalanan itu menurutku. Tapi birunya laut muara lelah. Hitamnya pantai. Pasir pantai pertama yang kulihat berwarna hitam. Dan segera kepekatannya itu semilir masin. Dan tentu saja menjadi sangat indah sebab aku berada di pantai dengan pasir hitam ini bersamamu. Merapat-rapat di bayangmu.

Berapa kali kita menemui pasar? Setiap hari. Pasar kecil yang terkadang ramai. Dan terkadang ramai sekali. Sesekali aku kecewa pada pasar yang tak mengerti mauku. Karena lajah yang berbeda. Salah ucap. Dan aku bosan hanya berbelanja itu dan itu kemudian itu saja.

Nama kotamu Pekalongan. Tak pernah sekalipun ada keinginanku untuk mendatanginya, sebelum ini. Katanya ia kota santri. Buktinya pesantren berderet sehingga membuatku bingung mengapa ada sebegini banyak pesantren subur menjamur.

Kotamu, Pekalongan. Yang aku tinggali adalah daerah kumuh tempat orang membatik. Panas obat-obat batik terbang membersamai debu-debu kotor. Membuat kotamu semakin panas. Setiap hari panas. Setiap pagi panas. Siang sangat panas. Malam juga mengalah untuk panas. Tapi kau selalu bangga dengan panasnya kotamu. Membuat gelisah. Cukup sesederhana itu.

Bukan di kotamu jika tidak kutemui pasar tumpah. Setiap malam ada pasar tumpah. Terjadwal untuk setiap daerah. Jadi terkadang kau sengaja mengajakku menujunya. Melihat orang-orang rela berdesakan. Ah, katamu pasar tumpah ini sebabnya antara lain adalah kesejahteraan masyarakat kotamu yang tak merata. Yang tak sepadan. Yang tak membumi. Entah. Mungkin juga benar katamu. Sebab tak pernah kutemui sebelumnya orang-orang berlomba berdagang apapun. Apapun. ‘hatta’ es seharga seribu yang seringkali kita beli di pinggir jalan itu, padahal aku bisa membuat es itu lebih segar dan enak. Ah ya, yang terkenang sepanjang margin jalanan adalah penjaja makanan. Bapak pernah berkata, “Kalau di sini ga khawatir kelaparan. Karena dimana-mana ada warung makan. Setiap satu meter ada.”

Tiba-tiba aku teringat wanita uzur di pojok gang masuk rumah kita. Usia tak membuatnya lelah berdiam diri menjaja berbagai makanan ringan sejak pagi-pagi sekali hingga siang menggeriap menuju senja. Karena setiap harinya kita menemuinya, jadilah terkadang ia menyandaiku dengan bahasa jawanya yang aku tak dapat mengerti yang akhirnya memaksaku memakai bahasa jawaku yang terbata sebab ternyata ia itu tak mengerti indonesiaku.

Jadi sebenarnya aku ingin berujar apa pada tulisan ini?

Tidak. Aku hanya mengenang. Terkadang kenangan itu manis sebab rindu. Sebab kau.

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s