Mungkin Kartini tidaklah sepenuhnya benar.  Tapi bisa jadi dirinya benar. Membenarkan ideologi yang carut marut mendobrak liar pikirnya. Banyak yang belum bahkan tidak mengetahui pada usia kegemilangan ke berapa Kartini mulai menulis kekejaman bangsa foedal bangsanya sendiri. Menggigil sebab kenyataan benarlah melingkupi hari-harinya. Enam belas tahun! Ya, sejak memulai hukum adat “pingitan” mulai usia 12 tahun ia telah belukar pikirannya. Gelisah bukan atas dirinya sendiri yang dikekang. Justru lewat hukum adat yang seolah menghukum kebebasannya itu ia menyeluki luka yang terjadi pada rakyatnya. Pada bangsanya yang rapuh.

Sekarang, pada usia dua belas kau baru bisa apa? Mengeluh memintai uang jajan kepada bundamu? Atau masih menangis sebab teman-teman sepermainan yang mengucilkanmu?

Aku ternganga atas pikiran Kartini yang sebegitu luar biasa yang mengatakan bahwa sebenarnya imperialisme itu datangnya bukan hanya dari barat tapi ternyata imperialisme itu telah sengaja diakarkan pada bangsa yang khusyuk menerima saja, imperialisme oleh bangsa sendiri. Ia membacai kaum aristokrat dengan titah yang tiada ampun. Maunya adalah hendak yang harus segera dipatuhi. Enggannya adalah halangan bagi siapa pun.

Dalam puisi tradisional jawa bahkan mengemukakan moral yang seharusnya didapat oleh kaum foedal :

Metrum Sinom :

                Wedi asih ing wong tuwa

                Setia hulung ing Sang Aji

                Ratu ingkah angreh praja

                Nuhormi sakersa neki

                Smujud lahir lan batin

                Iku sajatining elmu

                Dadasaring kasatrian

Artinya :

Takut sayang kepada orang tua

Setia tulus kepada Sri Baginda

Raja yang memerintah negeri

Laksanakan segala kehendaknya

Bersujud lahir dan batin

Itulah ilmu yang sejati

Dasar daripada kesatria

Ya, puisi kejam yang telah turun temurun sebagai pegangan kaum foedal mendidik mereka dengan begitu angkuhnya. Kartini yang hidup di antara kefeodalan itu sendiri  mengaku terheran-heran. Menggigil bingung dan merasa dirinya jahat. Aturan itu telah membuat kefeodalan itu menjadi pesakitan di zaman yang semakin modern pada zamannya.

Pada masanya Kartini telah begitu dewasa membacai sebaris derita bangsanya. Lantas sekarang ini apa yang terjadi? Adakah kemodernan membuat akal pikir manusia-manusia menjadi sedemikian sempitnya? Ataukah kemanjaan-kemanjaan itu telah membuai begitu berkepanjangan? Hingga lupa siapa diri siapa bangsa?

Tapi keyakinanku mengatakan bahwa Kartini ada pada setiap zamannya? Lantas? Kau kah? Atau aku?

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s