Lantas aku ingin menjelma Chairil yang abadi lewat “Aku” idealis yang meninggalkan keegoisan hidup. Tanpa perlu mengenang suatu apapun.

Kemudian aku pula ingin menjadi Pram yang bebas membebaskan liar pikirnya lewat jeli diksi. Mabuk aksara. Tetap terkenang walaupun pernah menjadi ketakutan.

Atau seperti Kartini yang bangga atas kebebasan bangsa penjajah namun gelisah meratapi kebengisan yang menukik tajam pada dada rakyatnya?

Atau hanya seperti aku saja. Yang begini saja ?

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s