Begitu melihat punggungmu berbalik jalan tegap menuju jalanan. Aku menahan tegar di ujung mata. Betapa kerinduan sudah kembali merendung. Betapa mudah kerinduan luber. Padahal baru saja kau pamit meminta diri untuk keluar sebentar. Aku tahu langit yang telah tumpah gelita bertambah saja kelamnya. Menenggelami bayanganmu yang tak bisa kuraih.

Padahal baru saja kupeluk tubuhmu yang selalu hangat bagiku itu dan mengecupi seluruh baumu. Aku tahu. Aku sangat sangat sangat keterlaluan mencintaimu. Rindu sudah jumpalitan berlompat pada ingatanku, pada mataku. Baru saja kau rebahkanku untuk kau paksa istirahat. Padahal aku juga tahu kau begitu kelelahannya hari ini. Tapi katamu, “Pangeranku itu sama-sama segalanya untukku. Begitu juga kau, Nay.” Ah, kalau saja airmata ini tak malu menderai pada senyummu itu. Hujan seketika surga yang kita bangun itu, Mas.

Mas, sudahkah aku benar-benar  menjadi maumu? Sedang yang aku tahu aku selalunya tertatih menggapai-gapai restumu pada lubang-lubang gelisah yang kau sandar padaku, mesra. Sudah berapa lama hari-hari kita membersamai? Sembilan bulan? Ya, sembilan bulan, Mas. Dan aku? Sudahkah aku benar-benar kau?

Terus bersamai aku, Mas. Hingga kelak benarlah takdir Tuhan yang boleh merenta jarak pada kita. Kematian. Biarlah. Aku tak ingin cepat-cepat mati, Mas. Sebelum kulihati kegemilangan benar-benar tergenggam untukmu. Biar kulihati dulu pangeran kita menjadi orang besar, sama sepertimu. Biar kulihati dulu kau paripurna untuk zamanmu, untuk bangsamu. Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu. Seperti lagu-lagu cinta yang tiada habisnya setiap malam dan siang kita senandungkan dalam dekap paling dalam. Dekap paling nurani. Aku mencintaimu, Mas. Sungguh.

 Jika cinta memiliki ukuran aku masih tak sanggup menakar cintamu yang melebihi semesta. Yang melebihi jomantara. Yang paling suwarga.

tertanda : aku, Naymu dalam dera rindu yang terus saja menggelumbang.

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s