jika bukan matamu

dimana lagi

hendak kuteduh segalaku

rasanya baru kemarin hari-hari itu melewati kita. kau dan aku masih sama-sama bersama dalam setiap pertemuan. dan setiap keadaan. dan rasanya baru beberapa hari yang lalu kau duduk membersamaiku sebagai peserta termuda . ah, aein.

kau ingat impian-impian yang tak kita biarkan saja berlompatan pada hari-hari enam puluh waktu lewat itu? saat kita sama-sama memutuskan melacur impian pada secarik kertas. salah satunya kutulis : Mesir, dan kau tulis besar-besar : Korea. ah, aein. betapa mimpi-mimpi kita selalu sebegini sama besarnya? sama nyata sejarahnya?

aein, tahukah kau? mungkin aku lebih tahu pada kedalaman mata ummimu itu tersirat kesendirian pada keramaian. pada kedalaman hati abimu itu lelaki hebat di matamu itu tersimpan gundah sebab melepas putri kecintaan lepas dari seluk matanya.

sekarang kutanyai kau, aein? hendak apa kau menuju Korea? seperti tanyaku yang lalu pada diriku sendiri hendak apa aku Mesir ini?

bukan, aein. aku tak ingin membuatmu menjadi berat. aku tak mungkin menghadiahimu gelisah ketika detik-detik keberangkatan. aku tak. aku….

sebab aku pun begitu. padahal aku tahu, tak semestinya aku begini. melepasmu bersama gelisah untuk impian. aku tahu aku tak semestinya begini. tapi, aku. aku belum benar-benar menghapus rentak hati yang terus saja menabuh hatiku gelisah ini sebelum kutemui matamu. yang sepi itu. mata yang begitu dalam untukku itu.

ah, aein.

aeiiiiin.

masih kah kau rasai gerak jiwaku sejak kau nyatakan, “jelas berbeda kau sekarang! kau sudah milik lelakimu!” ah, aku sakit mendengar ini, aein. sakit. tentu aku tetap sama untukmu. tapi kau terlalu tahu diri untuk mengalah kepada lelakiku. kau yang begini, aku membencinya. aku tak pernah menyukainya.

aein tetap aeinku. mataku. gerak jiwaku pula. untuk apa kupanjangkan rabithah menggeletar ‘arsy jika bukan kutalikan hatiku padamu?

aein, hendak berapa lama kau berlabuh pada impianmu?

aku rindu. menangisi pelukmu. menangisi kemergianmu. menangisi khianat jarak yang begitu panjang untuk kita.

aein, jika telah sampai pada negeri impian itu. segeralah bersujud atas kesyukuran hambur. jika telah selesai kau lacur rindu pada negeri itu. segera ingati aku.

fii amanillah, yaa habibty aein.

19.2.2012

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s