Dan ketika tiba waktunya, maka yang lebih dahulu harus dipersiapkan adalah hati yang penuh. Sebab bisa jadi ia luka yang selamanya. Bisa jadi juga ia luka yang buru-buru pergi menghilang.

 

Hati berlubang. Antara dusta dan tiada adalah keniscayaan yang memeluki percaya. Antara debur dan ragu adalah irama hati berwarna sembilu, sekarang.

 

Ya, seharusnya ada aksara yang tertata. Lidah terlanjur biru.

Ya, semestinya lerai saja dengan air mata. Mata nanar jempalitan dera.

Ya, selayaknya tak pantas untuk luka. Kecewa membayang.

 

Aku apa?

 

Segera lagi kutanya : Aku apa?

 

Sekali lagi kutanya : Aku apa?

 

Berulangkali kulacur tanya : AKU APA???

 

 

Aku takut mengerti warna luka. Aku enggan memeluk sepi berulang. Aku takut. Hanya takut.

 

Aku mau. Hanya aku. Selamanya.

 

-sketsa Perempuan dan Luka-

bismillah.

 

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s