Memetik Gemintang

 

Bu, aku ingin memetik gemintang yang menggelantung sempurna di langit jelaga.

 

“Mengapa sudah selarut ini kau masih di luar rumah, Sa? Dingin lho…” Ibu mendekati Nisa yang sedari tadi masih duduk di —- reot di depan rumahnya.

“Bu, bintang itu ada banyak sekali ya?” Nisa tak menjawab pertanyaan ibunya, malah menanyakan hal lain.

“Iya, banyak sekali. Bahkan ada bermilyar-milyar. Kenapa, nduk?”

“Ibu baru selesai membuat kue?” Lagi-lagi Nisa mengalihkan pembicaraan.

Tapi ibunya dengan sabar menjawab, “Iya. Malam ini ibu membuat lebih banyak. Karena ada pesanan dari Pak Dulah untuk acara di rumahnya besok.”

“Oh, ayo, Bu. Kita istirahat. Besok kan Nisa harus menjaja kue dan ibu harus mencuci di rumah bu RT.”

Ibu menggenggam jemari Nisa yang kecil. Menuntunnya menuju tempat tidur.

 

 

Seperti biasa, masih sangat subuh ibu ke kamar mandi yang sempit untuk membersihkan hidungnya dari gosong bekas kepulan asap lampu templok, kemudian bergantian dengan Nisa. Pagi ini Nisa harus berangkat ke pasar lebih pagi dari biasanya. Sehabis shalat subuh, ia cepat-cepat mandi dan menuju ke pasar. Benar saja, pagi ini Nisa membawa kue dua kali lipat lebih banyak karena pesanan Pak Dulah cukup banyak. Sebelum tiba di pasar ia berbelok di gang yang lebih lebar dari gang rumahnya, lalu mencari rumah bercat hijau dan  menyampaikan pesanan kue milik Pak Dulah.

Nisa mempercepat langkahnya, sepertinya agak terlambat ia ke pasar. Karena di rumah Pak Dulah ia diajak mengobrol banyak. Pak Dulah banyak menanyakan ini itu mengapa ia tidak sekolah dan lain-lainnya. Pertanyaan yang sangat biasa didengar dan dengan mudahnya ia jawab walaupun sebenarnya di hatinya yang paling dalam ada luka yang tiba-tiba basah, padahal sudah sedemikian rupa ia lihai mengubur luka itu.

Yah, benar saja. Kali ini dia sangat terlambat. Bukan sekedar terlambat yang sedikit. Sebab tempat yang biasa ia tempati untuk menjajakan berbagai macam kue buatan ibunya itu sekarang sudah ditempati Mbok Yem yang gembrot dan tak tahu diri itu. Akibatnya, tempatnya hanya sisa setengah dari biasanya. “Hhh, resiko orang telat.” Ia mengelus dadanya sendiri.

“Hari ini kue ibu harus cepat habis dan aku bisa pulang lebih awal.” Tekadnya dalam hati.

 

 

 

Tak sia-sia suaranya yang nyaring dengan mudah mencuri perhatian pembeli untuk membeli kue yang ia jual. Dan pelanggan setianya yang dapat dipastikan selalu membeli kuenya. Hasilnya, ia dapat pulang lebih awal dan keuntungan penjualannya bisa ia tabung lebih banyak.

Nisa cepat-cepat mengemasi barang bawaannya. “Laris keras ya hari ini, Sa?” Nada suara yang kurang enak ia dengar dari arah sebelah. Pasti si Mbok Yem yang selalu saja menanggapinya dengan sinis apapun yang ia lakukan, baik maupun kurang baik.

Tapi Nisa buang segala perasaan buruknya dan melempar senyum ke arah Mbok Yem, “Iya, alhamdulillah, Mbok. Saya duluan. Assalamu’alaikum.”

Salamnya malah dijawab dengan wajah Mbok Yem yang melengos tak suka.

“Ah, sabar sabar sabar, Nisa.” Ia mengelus dadanya sendiri.

 

 

Sore ini gadis berkerudung putih yang warnanya sudah berubah kekuningan datang lebih awal di mushola Al-Bayan, sambil menggenggam iqra dan buku tipis kumal yang tak disampul di tangan kanannya dan tangan kirinya menjepit pensil yang diraut tak rapi dengan pisau. Teman-temannya belum ada yang datang. Tapi Bu Heni sudah duduk di meja depan.

“Tumben sudah datang, Nisa?” Tanya Bu Heni ramah.

“Iya, Bu. Dagangannya laris sekali hari ini. Alhamdulillah.” Jawabnya sambil merekah senyum seketika pada Bu Heni.

Tiba-tiba Nisa teringat tentang bintang. Benda cantik yang setiap malam ia lihat dari belakang rumah. “Bu, siapa yang punya bintang yang setiap malam berkerlip di langit itu, ya?” Tanya polosnya mengundang senyum Bu Heni.

Bu Heni mendekatkan wajahnya pada Nisa, “Sayang, bintang itu ciptaan Allah. Sama seperti kita. Sama-sama sebagai makhlukNya.”

“Allah menjual bintang tidak ya, Bu?”

“Memang Nisa mau membeli bintang?”

Nisa menggangguk cepat. Wajahnya tiba-tiba berbinar. “Nisa sudah mengumpulkan uang tabungan untuk membeli bintang, Bu. Allah menjualnya dengan harga berapa, ya?”

“Allah tidak menciptakan bintang untuk dijual, Nisa. Tapi, agar kita bisa mengambil pelajaran dari bintang itu. Memang untuk apa bintangnya, Nisa?”

Wajah Nisa berubah padam. Ia menundukkan pandangannya. Sekarang tiba-tiba takut menatap wajah Bu Heni.  Bukan. Ia takut menjawab pertanyaan Bu Heni. Dan ketakutannya ditutupi oleh suara teman-temannya yang berisik ketika memasuki ruangan belajar mengaji.

 

 

Sudah hampir pukul dua belas malam, tetapi gadis umur delapan tahun itu masih terpaku menatapi langit. Tatapannya tak berkedip dan terus saja mendongak ke atas. Tapi, lama-kelamaan kepalanya pegal. Tangannya yang kecil itu menggoreskan gambar bintang di tanah dengan lidi yang entah ia dapat dari mana.

Ibu keluar. Tahu kalau anak perempuannya masih di luar rumah walaupun keadaan rumah sama sekali tidak tampak terang walaupun sebenarnya ada lampu ublik tertempel di dinding yang sudah lama menggosong.

“Nduk, ayo masuk. Sudah sangat larut malam.”

“Bu, tabungan Nisa cukup untuk beli bintang  ndak, ya?”

“Beli bintang? Buat apa, nduk?”

Nisa tak lagi menjawab pertanyaan ibu. Tatapannya malah kosong ke depan, dalam hatinya ia menghitung-hitung uang tabungannya.

“Nisa punya dua puluh lima  ribu, Bu!” Tiba-tiba ia bersorai di gempita sunyinya malam.

“Ssst, jangan keras-keras suaranya. Ndak pareng, tentangga kita sudah pada istirahat.”

Nisa menghela nafasnya mengatur suaranya lagi, “Kira-kira Nisa boleh bon nggak ya sama Allah, Bu?”

Ibu hanya tersenyum. “Allah malah bisa kasih buat Nisa dengan cuma-Cuma. Gratis.”

Nisa mengembang senyumnya, matanya berbinar, “Gra… graatisss, Bu?”

“Iya, gratis. Tapi syaratnya Nisa harus rajin belajar dan mengaji.”

“Itu mah gampang, Bu. Nisa pasti akan rajin belajar dan mengaji.” Suaranya terdengar mantap.

Ibu lagi-lagi melempar senyum ke arah Nisa. Lega. Pikirnya, ini hanyalah khayalan anak-anak tentang bintang dan ingin memilikinya. Toh, buat apa?

“Ayo, sekarang tidur.”

“Ayo, Bu. Biar besok Nisa lebih rajin lagi bantu ibu dan rajin belajar!”

 

 

Nisa sangat bersemangat pagi ini. Tentu saja karena perkataan ibu semalam. Hal yang harus dilakukannya hanyalah berlajar yang rajin dan mengaji. Benar-benar tak sesuai yang ia sangka selama ini. Ia kira harga bintang itu ratusan ribu. Ternyata Allah bisa memberi gratis. Maka, tak peduli apapun yang terjadi ia harus rajin belajar dan mengaji, begitu tekadnya.

 

 

Bulan-bulan sudah layu kemudian bangkit lagi menyerbak cahayanya. Sedang kehidupan yang dijalani banyak orang masih hampir sama seperti bulan-bulan sebelumnya. Menghidupi takdirnya.

Sekarang sudah bulan ketiga sejak tekad Nisa untuk terus rajin belajar dan mengaji. Sudah banyak yang bisa ia lakukan sekarang. Perkalian seratus sudah ia hafal diluar kepala dan sekarang ia sudah  iqra empat. Padahal anak-anak lain yang sama-sama masuk berbarengan dirinya baru iqra tiga. Bahkan masih ada yang  jalan ditempat di iqra dua.

Tapi, tetap saja. Kalau malam hari seperti ini ia tetap tak bisa belajar banyak. Karena lampu ublik di rumah hanya satu dan itu pun jauh dari kamar untuk belajar. Sedangkan subuh-subuh ia harus ke pasar menjualkan kue. Tapi sekarang berbeda, ibunya juga menjualkan kue. Sebab, ibu RT sudah punya pencuci baju yang lain. Ketika ditanya oleh Nisa mengapa ibu tidak marah dan kepada ibu RT, ibu menjawab, “Tidak mengapa karena Allah sudah mengatur rezeki kita masing-masing. Berjualan kue ini insyaallah masih bisa memenuhi kebutuhan kita.”

Ah, kasihan ibu. Harus lebih banyak membuat kue dan terkadang tidak habis. Nisa bukannya lelah karena harus terus membantu ibu serta belajar dan menyimpan keinginannya untuk memiliki bintang. Kata ibu, kita harus banyak bersabar kalau menghendaki sesuatu. Jadi, yang bisa dilakukannya saat ini adalah bersabar dan terus saja bersabar.

“Mungkin Allah mau Nisa sampai seperti ibu yang penyabar.” Gumamnya dalam hati.

 

Ibu tahu apa yang dipikirkan oleh Nisa. Pasti ia masih memikirkan perkataannya tiga bulan yang sudah lewat itu.

“Sekarang saatnya.” Kata ibu dalam hati.

Nanti ibu akan memberi kejutan pada Nisa. Nisa sudah belajar dengan sangat rajin dan sangat cepat perkembangannya dalam mengaji. Ibu bergegas keluar rumah untuk membeli sesuatu.

 

 

“Nduk nduk, ibu bawa hadiah buat kamu.”

Ibu tergopoh-gopoh mencapai rumah. Nisa segera keluar rumah menyambut ibu.

“Apa itu, Bu?”

“Bintang, Nduk.” Senyum ibu merekah bahagia. Tangannya menunjuk bungkusan hitam yang digenggamnya.

“Bintang, Bu?” Nisa kaget tidak percaya. Darimana ibu bisa mendapatkan bintang itu. Setaunya bintang punya tempat yang sangat jauh bahkan sangat tinggi. Jadi, sedari siang tadi ibu pergi untuk mencarikan bintang untuknya?

“Iya, nduk.” Ibu menyerahkan bungkusan hitam dari plastik itu.

Mata Nisa basah. Tangan kanannya mengusap airmata yang berjatuhan entah sejak kapan. Mimpinya terjawab sudah. Bintang ini sekarang akan jadi miliknya. Jadi, kalau malam ia tak perlu berkecil hati lagi sebab tidak ada lampu untuk belajar. Karena sekarang ia punya bintang. Bintang dari ibunya. Pasti sangat terang. Ia memeluk bungkusan hitam itu. Ibu pasti sekarang tak perlu kepayahan membuat kue dengan penerangan ublik dan ibu akan sangat terlihat cantik tanpa bekas gosong asap lampu ublik di hidung ibu, karena bintang ini akan menyinari penuh rumah mereka dan tak perlu khawatir dinding yang gosong dan bekas asap yang menempel di hidung. Rumah mereka akan jadi rumah paling terang di dunia ini. Rumah kecilnya nanti akan  didatangi banyak orang karena benderang cahaya bintang menyilau mata sesiapa pun. Nisa benar-benar tak percaya. Ia punya bintang. Ia punya bintang!

Puas ia memeluki bungkusan itu sekarang saatnya untuk membuka bungkusan ini. Mungkin ibu hanya mampu mengambil bintang yang kecil, maka bungkusan ini sangat kecil ketimbang bintang-bintang yang ia dapatkan. Tapi bukan masalah. Baginya bintang kecil ini akan mampu mengalahkan sinar yang didapat dari lampu ublik yang setia menemani mereka sejak Nisa kecil.

Tangannya mulai membuka bungkusan. Sangat hati-hati. Jantungnya berdegup kencang. Ibu sedari tadi hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Nisa. Dan sekarang bungkusan bintang itu terbuka. Nisa melongo. Isinya imitasi bintang berwarna kuning dalam bungkusan kecil, sedangkan bungkusnya tertulis, “would flame when you turn off your lamp.” Ia tak tahu apa maksud tulisan berbahasa inggris itu. Harganya pun masih tertera di pojok plastik ; Rp.5.000,00.

“Te..tee..terima kasih, Bu.”

Sekarang airmatanya benar-benar tumpah. Menderas.

 

 

08042011

Biar bintang saja

yang cukup menerangi malamku, Bu.

 

catatan : ini cerpen rasanya sudah seabad umurnya. say pikir lucu. masygul. dan benar-benar menyadari bahwa saya bukan diciptakan untuk menulis cerpen. begitulah.

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s