3 Juni 2011

17.00 WIB

Senja menelingkup pelangi. Masih cerah seperti tak hendak buru-buru mendatangi malam. Degup terus dipermainkan kabar-kabar atas datangnya seorang itu. Yang rela menyebrangi lautan. Yang rela berdesakan merebut niyala.

Wajah perempuan itu pasi lagi. Di hadapannya tenda bergaun marun megah menancap halaman. Untuk apa? Tanyanya hanya menggaung saja pada ingatan-ingatannya. Dan kursi-kursi berdesakan khidmat menuju pelaminan bermahkota marun-orange, warna senja kecintaanya. Untuk apa?

Adakah senja yang lebih nyaman dari hari ini? Matari derap-derap menjinjing keemasan kejinggaan kebiruan langit berkiblat ke halaman rumah. Serombongan bis mini datang dengan wajah cemas-senang-lega.

Reriung antar dua keluarga tetiba tercipta di ruang tamu sederhana. Asing. Sama-sama asing tapi merasa satu. Perempuan berwajah pias itu lupa cara menatap. Bukan. Bukan. Tetapi lelaki berkemeja biru tua yang duduk gelisah dengan wajah biru malu sesekali harus mencari matanya. Tapi tangan perempuan yang terlanjur dingin gugup itu digeramit kuat oleh wanita baya, “Ini mas kawinnya, nduk. maaf, kami tidak bisa memberi lebih.” Aku tak meminta. Tidak. Sungguh.

22.00

Malam menjadi sangat panjang. Entah jam dinding lupa menderak detik melodinya atau malam yang sebegini tenang membuat ia terasa tiada habis. Orang ramai duduk-duduk di halaman yang bertenda marun. Dipanggilnya perempuan itu untuk duduk bersama, sebentar saja. Tapi mereka tak banyak membawa wicara. Gurau. Senyum. Dan menatap perempuan itu lebih lama.

23.00

Wanita memasuki empat puluh sejak tadi diam. Seolah bicara bukan solusi untuk mencapai maunya. Tangannya diam-diam mendekapi perempuan itu. Semakin lama semakin erat. Semakin lama kian dekat.

4 Juni 2011

Subuh belum bangun tapi orang telah ramai mengerumuni asap membubung dapur.

Perempuan itu tak lapar. Tak merasa sedikitpun. Gelisah telah menggerus nafsunya menjadi tiada. Hanya berjuta degup dalam rapalan detiknya. Dan itu lebih dari cukup untuk merasai kenyang perutnya.

07.00

Wanita yang dipanggil ibu oleh perempuan itu gelisah mencari sosok lelakinya. Hendak kemana dalam waktu yang sebegini sempit menghilang. Handphone menggelantung di kemeja semalam.

07.10

Lelaki wanita itu paripurna. Entah. Harus tangis atau apa bagi perempuan berwajah pias itu nyatakan padanya. Terdengar kabar : lelaki kecintaanya lah yang menyiapi meja akad di masjid belakang rumah. Hendak gerimis. Tapi bukan saatnya.

09.00

Semua telah selesai. Siap tergelar. Ruang kamar. Ruang tamu. Dapur. Halaman yang dipayungi tenda. Pelaminan. Menyerbak aroma haru. Upacara paling khidmat sepanjang sejarah manusia. Perempuan itu dalam gaun putih. Bermahkotakan rembulan. Jemarinya digenggami wanita yang ia panggil ibu, mesra. Paling mesra. Beriringan menuju masjid belakang.

09.30

Semula langit cerah, tapi hendak lelaki perempuan yang dipanggil ayah itu mengucap ijab tiba-tiba mendung menggulung dan tercipta hujan sekejap. Suasana menjadi sejuk gugup dingin dan pasi. Wanita yang dipanggil ibu itu menggamit erat tangan perempuan yang menjadi kutub. Keras. “Saya terima nikah dan kawinnya…” Suara lelaki menggema. Getar seluruh isi masjid. Banjir haru tangis bahagia. “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuuma baina kuuma fii khoiri.” Doa-doa merayap melangit menggeletar ‘arsy Tuhan.

Dedikasi untuk suamiku ; Rois Rahma Fathoni. Kepada ummi, abi, dan keluarga besar. Saksikanlah untuk segala cinta yang tak hanya semesta. 🙂

Zagazig, 3 Juni 2012

17.13

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s