MEMAKNAI PELANGI

 

Terkadang kita terlanjur putus asa ketika hujan tiba-tiba membasahi hari kita dan selalu tak sabar menunggu badai selesai untuk menggelar altar pelangi.

 

Lagi-lagi mendengar berita ini. Dan pahit. Rasanya selalu pahit. Jiran. Bukan hanya sekali seolah martabat kita diinjak tanpa welas kasih. Dan media sebenarnya yang bertanggung jawab atas terinjaknya martabat kita. Toh, pada kehidupan nyata interaksi kita dengan negeri jiran itu sangat baik.

Bertetangga dan kemuliaannya. Dan mungkin itu yang menjadi satu alasan mengapa antara kita dan jiran ini selalu bertemu adu. Padahal permasalahannya hanya sederhana : kesalahpahaman. Kita tidak dewasa menyuluri masalah. Dan jiran gemas berulangkali mendapati tingkah laku kita.

Lupakah kita kepada : “Sebaik-baik teman disisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” (HR. Tirmidzi)

Atau menyempitkan dunia kita sendiri bahwa tetangga hanya hal antara rumah satu dengan rumah lainnya. Mendewasa bukan berarti harus menambah usia.

Keragaman membuat kita pelangi. Indah. Jangan cepat-cepat takut tersambar halilintar badainya, tapi takut jika pelangi tak lagi milik kita, tak lagi mendatangi kita. Jangan buru-buru menutup hati sebab kita tak pernah tahu pintu syurga mana yang buru-buru menutup jalan untuk diri.

 

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s