Ini tulisan 27 Desember 2009, inget banget ini cerpen karena kebanyakan baca Orhan Pamuk.

Mari disimak 🙂

Mengeja Cinta

Jika kau adalah dirimu…
maka marjan dan yakut adalah matamu
dalam beningnya kurasakan kesetiaanmu
dan dalam senyumanmu kau suguhkan
madu dalam cawan susu

Aku masih tak mengerti dengan sikapnya yang abai. Padahal dari tatapan matanya, aku tahu jika ia memendam perasaan yang sama seperti Shirin kepada Hüsrev ketika elok matanya menatap lukisan Hüsrev. Pada karya pelukis orang-orang Frank yang dianggap kafir itu.


Sudah berulang kali aku menyatakan perasaan yang selalu mengusik diamku dalam tiap goresan pensilku. Atau sekedar menggoda ingatanku yang kemudian dengan mudah kulukis wajahnya yang tak begitu cantik itu pada kanvas yang susah payah kubeli. Wajahnya terlukis begitu saja. Bibirnya yang mungil namun basah kemerahan itu selalu saja terlihat anggun saat ia mengatakan sepatah atau dua patah kata padaku. Dan matanya memicing jeli, seakan mengatakan padaku, ”Mengapa kau menatapku begitu dalam?”.

Aku suka dengan rambutnya yang tak pernah tergerai. Selalu tertutup. Bagiku, ia bagaikan misteri yang seharusnya kukuak. Betapa sulitnya itu. Beberapa dari teman sejawatku yang pernah melihat legam dan halus rambutnya memujinya tiada henti seolah menyayangkan dirinya menutupi mahkotanya yang katanya indah itu.

Suaranya? Kau tak akan percaya dengan yang satu ini. Ketika ia membuka mungil bibirnya dan berulangkali mengatupkannya, kau akan mendengar alunan shymponi yang begitu indah dimainkan dalam orchestra termahal. Lalu ingatanmu pada saat-saat sunyi seperti mendengar lagi alunan dari bibir mungilnya itu. Jika kau dipanggilnya, hatimu pasti bergetar. Dan takkan mungkin kau tak menoleh mencari sumber suara indahnya.

Tadi kukatakan ia tidak begitu cantik. Memang. Jika ia dibandingkan dengan Shekure dalam dongeng yang dimainkan Orhan Pamuk pendongeng timur dari Turki itu. Atau jika ia dibandingkan dengan kemolekan Fatimah putri Muhammad.

Aku tak tahu lagi harus membandingkan kecantikannya dengan siapa lagi. Oh, tapi yang kutahu dari Al-Qur’an atau hadist-hadist yang sering temanku katakan, ia lebih cantik dari bidadari yang bermata yakut dan marjan. Begitulah.

Sesekali kucuri pandangnya, padahal kutahu matanya tak tertuju padaku. Lalu dengan manisnya ia tersenyum begitu menyadari dirinya selalu diawasi oleh liar mataku. Dan aku tak tahu mengapa wajahnya langsung merona kemerahan.

Aku salah tingkah lagi. Ketika jemarinya yang lembut menyentuh tanganku yang pastinya tidak lebih lembut darinya. Jantungku seakan berdegup begitu kencang. Tak perlu ku berkaca lagi, kutahu pasti pipiku telah merona kemerahan laiknya blash on merah yang disapukan pada pipi para penari. Aku tak berani mamandangi wajahnya.

***

Kau pernah mendengar desau angin ketika siang hampa? Begitulah sejuknya ketika matanya yang elok memandangimu untuk mengatakan sesuatu. “Berapa kali kau jatuh cinta?” Tanyanya tiba-tiba. Aku diam saja. Malu. Bukan. Lebih tepatnya aku tak mungkin menyatakan hal yang terjadi sebenarnya terjadi padaku saat ini. Tapi apakah ini layak disebut jauth cinta?

Entahlah. Ku kira wajar saja jika aku begitu mencintainya. Mencintai tiap mili yang dimilikinya. Karena faktanya memang banyak yang jatuh dalam penjara cintanya.

Aku termasuk salah satu dari mereka yang beruntung. Karena aku tahu, tak satupun dari pemujanya bias sedekat seperti aku dengannya. Betapa beruntungnya aku. Dilahirkan dengan kemampuan bakat yang kuyakin sangat dicintai dan disukai gadis yang kupuja itu.

Bahkan, sesekali ia minta diajarkan melukis padaku. Yah, kukatakan sekali lagi. Ia minta diajarkan melukis padaku. Bukan yang lain. Tentu saja itu menambah kemelut perasaan yang terus saja berkecamuk di dadaku ini bertambah menggebu-gebu.

Rasanya ingin kugenggam saja tangannya yang lentik itu. Lalu kusapu bagian kanvas dengan warna-warna cinta. Agar ia tahu bagaimana aku yang begitu mencintainya.

Pernah suatu hari kucoba berpaling dari kerling matanya. Tapi, hatiku malah gelisah. Hh, hampir mati aku tak temui matanya yang begitu bening. Berupaya tenangkan hatiku. Isapan rokok kuhirup dalam-dalam lagi. Hampir sekotak penuh kuhabiskan asap-asap racun itu dalam terik yang mencekam bagiku tanpanya.

Pernah suatu kali kuutarakan tentang perasaanku ini kepada teman dekatku yang kutahu, ia juga teman gadis yang begitu aku cintai. Tapi tanggapannya malah dingin dan berupaya sebisa mungkin untuk mencegahku mengutarakan segala rasa yang sedang menbuncah gelisah di dadaku.

“Tolong Ki, jangan sampai itu terjadi pada Afnia..!” Nadanya sedikit meninggi setelah aku katakana padanya akan rencana pengutaraan perasaanku pada gadis yang begitu kupuja. Afnia.

“Tapi Herlan…” Kataku terputus.

“Kau mau mempercayaiku atau bagaimana?” sekali lagi matanya membuatku sedikit bergidik ngeri.

“Kau juga mencintainya? Kau boleh jujur padaku.” Aku berusaha tenang mengatur kata-kataku.

“Apa? Kau tidak waras, ya?!” Air mukanya berubah pias tidak percaya.

“Ya, aku hanya bertanya… Salah?” Suaraku terdengar lebih tenang.

“Kau tidak mengerti, ya? Kedekatanku dengannya kalau bukan ada hubungan darah, mana mau ia dekat denganku. Kau tahu sendiri bagaimana orangnya. Penuh dengan dalil-dalil yang terkadang membuatku pusing. Dasar anak kiyai.” Ia terlihat lebih jujur sekarang.
Aku sedikit tertarik atas ucapannya barusan. “Mengapa kau cela pandangan dan paham hidupnya? Kau bilang, kalian bersaudara?”
“Hei, apa salah jika aku sedikit mencelanya?” tampangnya sekarang sangat tidak kusukai.

“Hh, sia-sia aku bicara dengan sampah sepertimu.” Aku menggerutu dalam hati. Kutinggalkan ia sendiri yang sedang asyik menghirup asap rokok racunnya di pojok bangku taman.

***

Lain lagi ketika aku berbicara serius pada teman yang selalu bersamanya. Nayla. Sama seperti kepada Herlan, kuutarakan apa yang kurasakan pada gadis pujaanku, Afnia. Ia begitu tenang. Seolah tak terjadi apa-apa pada diriku. Sedikit-sedikit ia tersenyum. Lalu melihat dengan tenang mataku.

“Aku tak pernah menyalahkanmu ketika kau jatuh cinta.” Nada puitisnya mengundangku cermat mencerna kata-katanya. “Aku pun pernah jatuh cinta. Kau boleh menyamakan cerita cintaku seperti cerita Laila kepada Majnun. Atau Balqiz kepada Sulaiman? Sedang dirimu? Maaf, aku tak dapat mendefinisikan dimana cerita cintamu harus disandingkan.”

“Aku tak peduli dan tak butuh berpedoman seperti apa cintaku.” Aku langsung bergejolak.

“Apakah kau sadar kesalahan cintamu?” Mata beningnya ingin mengatakan bahwa ucapannya seratus persen benar.
Aku diam. Memikirkan perkataannya barusan. Benarkah apa yang aku lakukan dan rasakan ini salah? Mengapa salah? Memang harus bagaimana cinta itu? Apakah sesulit aku ingin mengungkapnya?

Ya, mungkin aku salah. Mungkin cinta seperti ini tidak ada. Mungkin cinta seperti ini semua orang tidak menyetujuinya. Mungkin… gadis itu bisa membenciku karena cinta ini. Mungkin.

Lama dalam diamku.

“Memang seperti apa cinta itu, Nay?” tanyaku tiba-tiba. Setelah kutata hatiku perlahan-lahan.

Butiran hangat air kelopak mataku berjatuhan membasahi pipi kurusku.

“Memang selama ini apa yang kau rasakan?” Nayla balik bertanya padaku.

“Kau tak perlu tahu bagaimana yang kurasakan, tapi jelaskan saja bagaimana cinta itu.” Sudah kupastikan wajahku pias basah dengan rembesan air mata.

“Tapi, aku takut apa yang kukatakan bisa menyakiti hatimu…” Nayla tak sanggup lagi memandangi wajahku.

“Jangan hiraukan wajahku yang kolot ini Nay… Tolong!” Suaraku mulai serak terimbas tangisan. Aku tahu Nayla sudah prihatin melihat wajahku yang berubah arang seperti ini.

“Tapi dengarkan aku baik-baik.” Pinta Nayla lembut.

“Ya.” Jawabku sekenanya.

“Adalah ketika nafasmu kau hembuskan, kau mencarinya lagi. Ketika kata-kata yang kau ucapkan terlontar, kau ingin dengarkan lagi, ketika matamu menitikan bening air matamu, kau ingin air mata itu kembali ke pelupuknya. Bagi sebagian orang, cinta itu memiliki definisi menurut pandangan mereka. Tidak berujung memang, tapi inilah terjemah cinta yang kusimpulkan. Matamu hanya akan selalu membuat sketsa wajahnya dimana pun, telingamu pun akan selalu terngiang ucapan-ucapannya padamu, dan yang selalu kau katakana adalah selalu mengenai dirinya. Seolah hanya dia saja yang hadir dalam hidupmu. Mencintai itu suatu fitrah, tapi sebelumnya. Aku ingin tanyakan padamu, bagaimana bisa kau mencintai Afnia?” Tanya Nayla lembut. Bibirnya sedari tadi hanya mengukir senyum saja.

Aku terdiam sebentar, “Aku merasakan seperti getaran halus dalam dadaku jika mengingatnya.” Kususun kata-kata agar terlihat sepadan dengan apa yang ia katakan. “Terkadang getaran itulah yang menyebabkan aku melukis dengan cinta. Mungkin karena getaran itu berasal dari orang yang aku cinta. Kau pernah lihat lukisan wajahnya di galeriku? Itulah lukisan terbaikku.” Ujarku bangga.

“Kinan… bukan seperti itu cinta. Kau tahu cinta yang sesuai fitrah itu seperti apa? Yaitu, saat kau mencintai seorang lelaki yang akan membuatmu merasa terlindungi, merasa dimiliki. Aku takut menyalah artikan cintamu. Karena sesama wanita, hanya patut mencintai karena saudara dan hubungan persahabatan. Bukan karena apapun aku menghalangimu untuk menyatakan cintamu padanya. Aku hanya takut ia salah faham seperti dirimu. Mau kau korbankan dirinya dalam kesalah fahamanmu?”

Tangisku pecah lagi. Tak sanggup lagi kuangkat wajahku yang sudah basah air mata. Tangan Nayla lembut mengusap kepalaku.

“Ya Allah… mengapa aku seperti ini? Salah Afnia apa hingga kucintai dia layaknya kucintai lelaki. Hh…” Hatiku hancur karena perasaanku sendiri.

“Tapi, kau bisa menyembunyikan rahasia ini kan, Nay?” Cepat-cepat kukatakan kerahasiaan itu pada Nayla.

Nayla hanya mengangguk sambil tersenyum meyakinkanku akan kerahasiaan yang akan dijaganya. Dan aku tak bisa berkata-kata lagi. Butiran hangat air mataku terus saja berjatuhan di pipiku.

Masih bertasbih atas
ampunan dan cintaNya.

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

One response »

  1. Wawan Herdianto berkata:

    satra mengalirkan keindahan dan kekuatannya…terus berkarya, mengisnspirasi dunia. Salam silaturahim 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s