Tepat dua tahun lalu setelah penantian yang begitu panjang, lalu rasa sakit yang aku tak kuasa menahan. Tuhan menghadiahi kami si mungil yang wajahnya membias wangi cinta memenuhi rumah.

Nayra Adeliya, nama yang kami rindukan.

Sehari dua hari sebulan dua bulan tiga bulan enam bulan setahun dua tahun dan detik-detik berlalu tergesa-gesa, Nay.

Tertawa, menangis, menggenggami, merangkak, duduk, berdiri, berlari, berlari, kemudian suatu ketika kami mendengar suara surga dari bibir mungilnya, “Ayah… Bunda…”

Jika cukup satu kata saja untuk menjelaskan gemuruh hati ini maka kata itu adalah “Keajaiban”

Tawa. Tangis. Canda. Peluk mesra. Kecup sayang. Segala tingkah lugu. Cuma membuatku melangit syukur berulang, “Sungguh Tuhan sangat menyanyangi kami dengan hadirnya kau sebagai anugerah terindah”

Nay, Nayra.

Cepatlah besar, matariku.
Dan dimanapun kapanpun siapapun kau kelak aku selalu ada menggenggami jemari si kecilku.

With love,
Bunda dan Ayah1.
(14/9/2012 – 14/9/2014)

View on Path

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s