149 milyar detik

Kalau dikatakan usia pernikahan tiga tahun ke atas sudah tidak ada lagi romantisme mesra. Duhai, salah besar. Justru di tahun-tahun ini dan ke depan setelah kita membuka jubah sesama pasangan kita. Menerawang segala belukar pikirnya. Kita telah sama-sama paling jujur untuk pertama kalinya.

Rindu datang di setiap lipatan detik. Rindu memetik dawai di hela nafas. Bahkan rindu nyeruak bersamaan dengan adanya kau bersama.

Apalagi yang hendak kita deskripsi dari kata cinta? Tak ada. Selamanya tak ada ejaan di deru kata-kata cinta. Biar habis tinta dan mengulang lembarannya, tetap saja cinta tak usai mendikte gelumbangnya.

Perasaan kita tidak lagi sama di sebulan pertama pernikahan yang gugup bahagia cemas dipenuhi kejutan.

Hari-hari yang kita lalui saat ini dipenuhi mimpi-mimpi yang tak usai. Bagian yang mungkin paling pahit dan paling manis sebab proses menimang mimpi kita masih panjang dan terjal. Ragu. Putus asa. Dan tak berhenti. Begitulah kita sekarang.

Maka tentang hari ini aku tuliskan.

Biar kita tak lupa mengapa mungkin sepuluh atau dua puluh tahun nanti hidup hanya semanis gula-gula.

Sebab ada hari ini.

Ya. Sebab ada hari ini yang jemarimu menggenggami aku berkepanjangan.
Pada masa kita memiliki mimpi paling panjang tanpa jeda ruang waktu.
Pada masa kita meratapi dunia yang terkadang keterlaluan membiarkan kita hidup di atasanya.
Pada masa kita berharap atas rapal doa yang selalu kita langitkan di segala waktunya.
Pada masa siang yang mendapati anak kita kegirangan dengan tawa dan malam yang penuh damai menyelimuti mimpinya.
Pada masa kita kesepian sebab hanya kita saja sendiri yang melakukan mimpi kita.
Pada saat kita bahagia sebab menyadari bahwa membahagiakan kerabat dan teman adalah bagian dari kebahagiaan kita.
Pada saat kita akhirnya tahu bahwa semua yang kita jalani tanpa akhir.

Tanpa batas.

Sebab mimpi kita tak pernah sederhana. Bukan. Bukan.

Karena firdaus-Nya bukan milik pemimpi sederhana. Ya.

Dearest your wife 🙂

View on Path

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s