Gemuruh menggulung hujan debu yang beku
Suara peluru-peluru mendesis
; berbisik merapal nama calon si syahid
Dentum rudal berulang-ulang gelegar
Disulut
Tanpa habis
Kesetanan
Sekumpulan penjajah nyeringai iblis

Ibu-ibu tergopoh menjerit
Meneriaki satu-satunya nama diingatan :
Allah! Allah! Allah!
Bayi dan anak-anak -belum lagi ranum usianya- menukar tangis dengan gelimang darah
Para lelaki tegap membopong sepotong tubuh banjir anyir merah nyala yang erat ia terbata,
“Bersabarlah, anakku. Bersabarlah.”

Ambulan seliwer memburu nafas satu-satu
Membayang kejaran Izrail dan wangian misk darah yang mengalir diantaranya

Allah…
Allah…
Allah…
Allahu Akbar… Walillahil hamd…

Bukan. Bukan.
Bukan hendak kami pergi
Sebab hati dan kaki kami akan terus menggenggami tanah ini

Biar banjir airmata
Biar banjir darah
Biar banjir peluru
Biar banjir lapar
Biar banjir gulita
Biar banjir luka memupuk derita

Janji Allah terlihat dengan jelas
Di kepalan batu yang dilontarkan
Seruan yang menggelumbang dada ; Laa haula wa laa quwwata illa billah

Janji-Nya menjelma
Di sudut bibir
Terbit sesabit senyuman

Asyahadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah

 

24112015

****

Setelah sekian lama gak post -bukan berarti gak nulis puisi ya-. Ternyata jadi seorang ibu gak mudah. Gak semudah itu. 24 jam dalam sehari sedang yang kita cari dan kejar adalah ridho-Nya. Cuma ridho-Nya. Kadang hopeless. Bisa kah saya? Benarkah saya bisa? Pertanyaan seperti itu terulang. Lagi. Lagi. Tapi peluk dan mata-mata kedua tercintaku ini selalu menyala harapan.

Ya. Mari genggami jemari kita dan bersama menggamit firdaus-Nya.

Dan puisi ini tiba-tiba nyeruak di pekan ke-19 dede ganin di kandungan Bunda. Semua isinya gemetar ditulis berulang di robekan kertas.

 

Kata Ayah, kelak biar dede ganin ketika besar nanti jadi presiden. Bunda tertawa. Tentu saja. Tapi siapa yang tahu soal malaikat-malaikat dan makhluk yang mengamini?

 

–nah kan jadi curcol si bunda mah

Iklan

About athifarahma

Kita perlu membangun dunia dengan kepercayaan harapan. Mata-mata manusia perlu menyala dengan sastra bukan tunduk banjir tangisnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s